Berawal disaat itu. Seseorang memberi nomor handphone mu padaku. Saat itu biasa
saja. Tak ada yang istimewa—begitu aku merasa. Ya, dirimu tahu presdir—aku
bukanlah orang yang penuh dengan kelembutan. Namun, aku hanya pandai berterus
terang. Ya, walau terkadang keberterusteranganku itu, belum pada tempatnya. Maklum,
aku masih belajar.
Hari itu, aku takut untuk menemuimu. Walau sebenarnya,
mungkin kamu sedang menunggu. Ya, kamu tahu—saat itu aku benar-benar sedang
terpuruk. Takut—kalau-kalau akan membuat kesalahan jika aku datang. Maka aku
putuskan untuk tidak datang dan juga tidak memberi kabar.