Aku ada karena aku
dicipta. Aku diberi masa untuk selalu hadir menemani keramaian maupun kesepian.
Selesai di belahan bumi ini, aku diperintahkan untuk berpindah ke belahan bumi
lain. Aku tetap ada, walau kadang bersama titik-titik air. Aku semakin cantik
saat warna jingga mendominasi, semakin gagah saat burung-burung berbaris rapi
membentuk formasi. Aku juga bisa berkilau jika mendapat bias sang mentari.
Terlebih lagi saat mentari memantulkan silau kilaunya ke hamparan air yang luas
itu—entah dimana tepi dan ujungnya. Akulah senja.
Kabarnya, banyak sangat
yang menantikan kedatanganku. Seperti artis saja—dinanti-nanti kehadirannya.
Ada yang berkata bahwa aku sangat cocok dijadikan teman untuk melepas lelah.
Istilah kerennya refreshing. Saat
mengunjungiku, banyak lensa penangkap gambar yang beredar di sekelilingku—sudah
makin banyak saja ragamnya, kulihat. Terbukti, teknologi semakin canggih. Tapi,
ada juga yang cuma duduk-duduk sambil bercerita. Tidak hanya itu—yang duduk
sendiri pun ada. Wah wah, ternyata keluarga besar juga mengunjungiku. Ah, aku
sudah merasa lebih hebat dari artis terkenal.
Padahal, aku tidak
membawa apa-apa. Aku hanya menunaikan perintah Rajaku—datang dan berpindah—itu
saja. Serius! tak satu pun yang kubawa. Bukankah kawan-kawanku itu yang
bersedia datang bersamaan denganku? Itu saja. Sepertinya aku harus berterima
kasih kepada mereka—titik-titik air, mentari, burung-burung, hamparan air nan
luas, tentu juga si jingga kawan baikku. Ups, ralat—semuanya kawan baikku.
Berkat mereka ada, aku jadi sangat dinanti dan mungkin bisa saja dirindukan.
***
“Berangkat
pukul berapa?”
“............”,
diam.
“Sudah
packing?”
“............”,
masih diam.
“Diantar
atau sendiri?”
“............”,
lagi-lagi tetap diam.
***
Aku
suka jika sudah diperintahkan untuk bertugas di sini. Ramai sangat yang
menyambut kedatanganku. Ada manusia, kendaraan, aroma makanan yang mengudara, minuman
berasap hingga berembun, biduk-biduk itu juga menambah kecantikanku.
Kawan-kawanku para nelayan sedang melepas tali ikatannya—ya, mereka mulai
membawa biduk itu ke tengah lautan.
Ombak
sore ini sangat cantik. Kuperhatikan, kira-kira sampai menggulung hingga lima
gulungan. Buihnya putih seperti susu. Mereka saling berkejaran, walau takkan
mungkin terkejar. Gulungan pertama tetap akan sampai lebih dulu di bibir
pantai—walau sekeras apa pun gulungan kedua berusaha mengejar—karena begitulah
hakikat mereka, para gulungan ombak. Indahnya lagi, saat ombak yang surut
bertemu dengan ombak yang datang. Duhai, indah sangat pertemuan itu—air laut
menaik beberapa sentimeter karenanya. Cantik.
Anak
para manusia itu juga turun ke pasirnya. Ada yang saling melempar pasir, yang
lari karena dikejar ombak, mengukir di pasir, juga ada yang bermain agak ke
tengah laut. Ya, apa pun lah itu—itu hak mereka untuk menikmati kedatanganku
hari ini. Aku senang menyaksikannya.
***
“Ada
buku baru?”, sudah mulai bicara.
“Ini.”,
sambil menyodorkan buku yang covernya
didominasi oleh warna biru.
“..........”,
menerima buku dengan ukuran 14×21 sentimeter itu sambil tersenyum.
“Bacalah,
nice story. Aku rasa kamu suka.”
“..........”
Tatapan
mereka beradu dalam diam. Beberapa detik kemudian pecahlah sedikit tawa—ya,
percikan air sampai ke wajah mereka. Tampak sangat, mereka begitu menikmati
suasana ini. Satu di antaranya membolak-balik halaman demi halaman buku—yang
lain meneguk minuman yang botolnya terlihat berembun.
“Tuliskan
namamu di buku itu.”
“.....??”
wajahnya bertanya.
“Iya,
tulis saja. Itu milikmu.”
“............”
Diamnya
tetap mendominasi. Tidak peduli, masih saja membolak-balik buku bersampul biru itu.
Yang lain juga begitu. Terlihat, setengah botol minumannya sudah kosong. Mereka
memang keras kepala.
***
Aku
tidak heran. Kalau cerah begini, memang ramai yang datang ke sini. Mereka mulai
berdatangan selepas ashar, kira-kira saat anak-anak pergi mengaji. Aduh aduh,
ada sesuatu yang hampir lupa kuberitahu. Rata-rata, orang di sini ingin
mempererat tali persaudaraan. Lihat saja. Mereka saling mengambil gambar satu
sama lain, saling berangkulan, dan ada juga yang berbagi makanan. Mereka tidak
ragu-ragu untuk turun ke pasir (yang sudah jelas basah dan mengotori). Dan apa
yang mereka lakukan? Yup, mereka terlihat sedang mengambil posisi untuk
ditangkap lensa. Kalau aku tidak salah, namanya berpose. Hmmm..menyenangkan dan
amat enak dipandang.
Beralih sedikit,
kulihat ada yang membawa anak bayi. Mhmh..lucu-lucu. Memang wajah-wajah surga
saja yang datang sore ini. Putih bersih sangat wajah para bayi itu. Baunya pun
semerbak mewangi. Lembut yang teramat sangat aroma tubuhnya. Serasa ingin
selalu mendekapnya. Masya Allah..memang
benar-benar semuanya atas kuasa Allah.
Tidak semua bayi yang
datang akan tersenyum dan tertawa. Ada juga kulihat bayi yang merengek,
menangis, dan sebagainya. Apa pun lah itu, aku senang melihat bayi-bayi itu
tetap didekap oleh orang tuanya. Terlebih lagi, jika sudah bisa berjalan tiga
atau empat langkah. Makin bahagia saja aku memandangnya.
***
“Kamu
takut?”, botolnya sudah kosong.
“...........”,
masih asyik membolak-balik buku.
“Itu
biasa. Namanya juga pergi meninggalkan, tentu akan menemui kondisi yang
berbeda.”
“Iya,
terlalu banyak yang harus ditinggalkan. Rasanya tidak siap.”, akhirnya bicara
juga.
“Wajarlah
itu. Siapa yang tidak akan gamang? Tapi yakinlah, ini keputusan terbaik dari
Allah untukmu.”
“Ya,
aku tahu—inilah yang terbaik.”
Satu
di antaranya terlihat berdiri, kemudian berjalan dari satu batu ke batu
lainnya. Yang lain tetap asyik membolak-balik buku bersampul biru itu. Asha dan
Rifka memang tidak banyak bicara. Kalau pun bersua, akan bercerita secukupnya.
Sore ini mereka dipertemukan oleh Allah. Tentu, mereka menuju tepi laut—tempat
yang sangat dicinta. Dari kecil mereka sudah berkawan—hingga usia mereka
dewasa.
Asha
mencoba turun ke batu-batu yang tiap sebentar dihempas ombak. Ia hendak
menghirup aroma laut dengan lebih dekat. Seketika, Asha meraba saku bajunya.
Terlihat ia mengeluarkan ponsel dan mengetik sms.
“Aku
tahu kamu sebentar lagi pergi. Tidak rindukah kamu bermain agak ke tengah
laut?”
Dari
kejauhan, terlihat Rifka terkaget (getaran ponsel itu mengejutkannya). Ia baca
dan kemudian tersenyum. Asha melambaikan tangannya dari kejauhan. Namun, Rifka
tetap saja duduk dan membaca.
***
Apa-apaan
ini? Benda-benda yang tinggi dan panjang itu menghalangi pandanganku.
Jelas-jelas aku sedang menikmati wajah-wajah lucu para bayi itu. Aduh aduh,
menyebalkan juga ternyata. Eiitttss..tunggu dulu. Ada yang turun dari benda
itu—orang-orangnya tinggi besar. Kalau aku tidak salah, mereka itu para
wisatawan. Oohhh..mau main ke laut tho?
Okelah, silakan turis-turis—nikmatilah.
***
Dari
tengah laut, Asha mengirimi Rifka sms lagi.
“Kemarilah..”
Rifka
pun dengan agak terpaksa memenuhi panggilan Asha.
“Duduklah!”,
Asha berkata dengan suara pelan. “Katakan padaku, apa yang kamu rasakan.”
“Haruskah
aku memberitahumu?”
“Ya,
harus.”
“Baiklah.
Sangat berat bagiku untuk meninggalkan kota ini. Terlalu banyak yang harus
kutinggalkan. Aku lahir dan besar di sini. Dan, dengan harus hijrah ke kota
lain—yang aku tak tahu bagaimana kondisi di sana, rasanya aku tidak siap.”
“Sekarang
dengarkan aku. Kemana pun kamu menghadap, di sana ada Allah. Di belahan bumi
mana pun kamu berpijak, di sana juga buminya Allah. Dan siapa pun yang kamu
temui di sana, mereka juga makhluk Allah—sama denganku dan keluargamu di sini.
Kami juga makhluk ciptaan Allah.”
“Tapi
tetap tidak sama.”
“Itulah
kekuasaan Allah, tak satu pun Dia menciptakan yang sama—walau kembar identik
sekali pun. Ah, sudahlah kawan. Tolong jangan lupa dengan perjuanganmu selama
ini. Asa itu sudah kamu rajut di sini. Kalau kamu harus hijrah, berarti di
sanalah lanjutan dari asamu itu.”
“Semoga
saja aku bisa.”
“Tentu
kawan, kamu pasti bisa (insyaAllah).”
***
Ya,
Asha dan Rifka sangat sering mengunjungiku. Mereka sudah dari kecil menjadi
teman baikku. Masih sangat jelas diingatanku, dulu mereka selalu menyempatkan
diri untuk melihatku saat pulang mengaji. Tidak kusangka mereka harus berpisah
di sini—tempat yang menyimpan banyak memori. Karena, aku cukup mengikuti ikatan
persaudaraan mereka ini. Aku tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat kondisi
ini. Aku hanya bisa menatap dari kejauhan sembari menyimak setiap untaian kisah
yang kelak akan jadi saksi perjuangan mereka, Asha dan Rifka.
***
“Optimis
dan selalulah tersenyum.” Asha tersenyum sembari merangkul saudara seimannya
itu menuju tepi laut.
Perlahan
mentari membenam dan hilang di batas antara langit dan laut. Terlihat rangkulan
itu semakin erat, dilepas oleh langit jingga yang perlahan menghitam. Indah..
*tamat..

:)..........
BalasHapuswah, senangnya..ada yang tersenyum setelah membaca cerita ini..thanks for smile..
Hapus:)..
waaah... jadi bahagia, ternyata senyuman itu membuat sang penulis jadi senang..... *senyum lagi..:)
Hapushehe..
Hapusmari perbanyak senyum..
;)
*thanks again
terus berkarya kawan, semoga sukses
BalasHapusaamiin..
Hapusmari selalu memperbarui semangat dalam berkarya. karena, itulah yang membuat kita berguna..
:)