Waktu = Kesempatan

Mari Menjadi Generasi yang Beretika

MARI MENJADI GENERASI YANG BERETIKA
Kita adalah manusia yang lahir dan tumbuh di bumi Indonesia. Airnya yang jernih, lautnya yang biru, hutannya yang hijau, satwanya yang beraneka, dan terutama adalah penduduknya yang ramah dan berhati baik. Berbicara mengenai penduduk, mengingatkan kita kepada pendidikan. Insan yang berpijak di bumi pertiwi ini, berperilaku baik, bercita-cita baik, dan berusaha dengan baik. Segala yang baik akan selalu membaikkan. Karena, baik itu identik dengan budi. Orang yang berbudi hidupnya akan baik. Berbudi. Kata ini memiliki makna yang kalau orang baru mendengarnya, pikiran orang langsung pada sopan santun. Dan sopan santun bersahabat dengan etika. Etika merupakan sesuatu yang tidak semua orang dapat memilikinya. Namun, tidak mustahil kita menjadi orang yang beretika. Agar kita dapat menjadi siswa yang beretika, maka diperlukan kesadaran yang tinggi dalam menjalani hidup.

Menjadikan Siswa Bermartabat Melalui Pendidikan

Menjadikan Siswa Bermartabat Melalui Pendidikan
Oleh: Rahmizakia Rifka
Siswa SMAN 3 Batusangkar
Minang adalah salah satu suku dari sekian banyak suku yang ada di Indonesia. Seperti yang banyak disebut orang, bahwa Padang-lah asal orang Minang. Yang orang mengenalnya dengan adanya sebutan uda dan uni. Uda untuk saudara laki-laki, dan uni untuk saudara perempuan. Orang Minang ini, adalah orang yang kaya dengan aneka ragam rahmat Tuhan. Kita lihat saja daerahnya. Daerah Sumbar begitu kaya. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada alam ini. Insan Minang pun, cerdas dan berhati baik. Sesuai dengan program pemerintah, anak Indonesia harus mengikuti wajib belajar 9 tahun. Untuk mendukung program pemerintah itu, maka anak-anak Minang berkesempatan untuk berpendidikan dan juga berpeluang untuk berhasil.

Pentingnya IT

Pentingnya IT Bagi Siswa
Oleh: Rahmizakia Rifka



Dulu, pada saat nenek dan kakek kita masih berusia 16 tahun, mereka belum kenal dengan yang namanya internet atau handphone. Untuk berkomunikasi dengan pacarnya mungkin, harus menulis surat sekian panjang untuk dikirimkan kepada sang tambatan hati. Namun, pada zaman ini, yang namanya internet dan handhpone sudah tak asing lagi. Dulu, siapa yang punya Hp terlihat sangat mewah. Namun, sekarang siapa pun bisa memiliki Hp. Tak hanya orang dewasa. Anak SD pun, sudah mempunyai Hp. Entah untuk apa Hp baginya. Mungkin saja, untuk bermain game.

Monolog: Bisikan Jiwa di Kesepian Malam

Monolog: Bisikan Jiwa di Kesepian Malam
Oleh: Rahmizakia Rifka
Siswi SMAN 3 Batusangkar



Baiklah, pada malam ini, saya akan coba untuk mulai menggoreskan ujung pena ini, di kertas yang putih bersih ini. Malam ini, dihiasi dengan gerimis, yang datang setelah huja deras. Hujan deras, telah membersihkan jalan di luar sana. Tumbuhan yang butuh air pun, telah dianugerahkan rahmat oleh Tuhan. Bicara soal anugerah, semuanya adalah anugerah. Tubuh yang sehat, keluarga yang bahagia, jiwa yang damai, adalah anugerah. Namun, ada beberapa sisi dalam kehidupan ini, yang banyak orang menyebutnya dengan derita. Derita itu, memang identik dengan kesakitan. Kesedihan, bencana, keterpurukan, orang menyebutnya dengan derita. Jadi, apakah derita itu tidak suatu anugerah? Semua akan menjadi anugerah, bagi jiwa-jiwa yang baik. Walau itu adalah kepedihan sekali pun, jiwa yang baik, tetap memandangnya sebagai suatu anugerah.