Dia gini..
Tiap-tiap orang punya potensi yang
beda-beda. Punya fokus yang beda-beda. Punya passion yang beda-beda. Cukuplah orang tua jaman dulu yang seperti
itu. Menyamaratakan semua potensi anak. Menyamaratakan semua bakat anak. Menyamaratakan
semua kemampuan anak. Sudah. Yang sudah itu ya sudah. Buat ke depannya mari
sama-sama diperbaiki. Baik dari sisi anak maupun orang tua.
Kalo saya pribadi, udah diduluin ama
orang tua. Beliau-beliau udah tamat ceritanya di dunia. Saya cuma kasian sama
anak yang jadi pelampiasan orang tuanya. Saya akui, semua orang tua ingin yang
terbaik untuk anaknya. Saya cuma menyayangkan ketidakseimbangan ini. Mungkin sudah
terlalu sering saya bicara soal anak-orang tua. Apa ketidakseimbangannya?
PENGERTIAN. Itu saja saya rasa.
Sebelumnya saya ingatkan, anak di sini
sudah usia dewasa awal (20 tahunan lah kira-kira. Ato dari 18 tahun juga
boleh). Intinya anak yang sudah punya prinsip sendiri, cara sendiri, dan jati
diri. Anak mami mah, gak masuk kategori ini.
Ini, saya kasih cerita saya. Sulit sekali
bagi saya untuk menyukai dunia perkuliahan. Saya rasa saya sudah terlampau
jenuh. Saya suka belajar. Saya suka berdiskusi. Saya juga suka mencoba ini dan
mencoba itu. Tapi, sekarang rasanya sudah tidak lagi. Anehnya, saya masih
bertahan dengan status mahasiswa itu. Alasan satu-satunya saya bertahan adalah
orang tua saya. Alhamdulillah..hidup
saya aman-aman saja semenjak mereka tinggal. Gak pernah kelaparan, gak pernah
kurang duit jajan, gak pernah bingung mo tidur dimana. Mungkin, semua itu harus
saya bayar dengan keharusan saya untuk bertahan kuliah—saya pikir begitu. Dimana
pula letak ujiannya? Diamana pula letak perjuangannya?
Sebenarnya bukan tidak mungkin
anak-orang tua akan sama-sama pengertian. Kuncinya terletak di “memahami”. Seberapa
jauh anak memahami orang tuanya? Seberapa jauh orang tua memahami anaknya? Saya
rasa itu adalah salah satu hal yang agak terlupakan. Saya sering mendengar
keluhan sodara saya. Sulitlah sekolah di sana, beratlah kuliah di sana. Memang,
katanya banggaan keluarga. Tapi apalah jadinya kalo kita hidup untuk sebuah
kebanggaan?
Kalo saya pribadi, memang tidak ingin
diperbudak oleh dunia. Bukankah prestise, kebanggaan, nama baik, gengsi—semua itu
adalah dunia? Saya saran, gak usah dunia-lah yang dikejar. Lihat saja saya. Ini
saja sudah ngesot buat nyelesai-in sarjana. Sarjana itu dunia, bukan? Jujur,
saya ini memang dituntut keluarga. Tapi sudahlah, mo diapain lagi. Dikit lagi
juga sarjana (insyaAllah).
Saya cuma saran. Sedikit saja potensi
yang ada, asahlah itu.
Ya, cuma itu. ASAH POTENSIMU..
*dulu (semester 1 kuliah) saya masih baca buku
**itu fotonya diambil pas belajar kelompok sama teman-teman
***sekarang, nyentuh buku pun tidak
Eh, itu fotonya~ :3
BalasHapusha..bagus kan?--bukunya itu loh..berKASTA.. :D (hape nya juga berKASTA)
Hapushmm... ngesot...???? janganlah... cobalah untuk berjalan lagi, karena k' yakin dirimu sudah pernah melakukannya(berjalan).. karena lelah mungkin makanya jadi ngesot, cukup ngesot yang sekarang jadi waktu buat istirahat,,, setelah itu berdirilah kembali... berjalanlah kembali, karena itu akan lebih mempercepat untuk sampai ke tujuan duniamu..>>sarjana.. InsyaAllah..
BalasHapusYup... Sarannya akan coba dilaksanakan...:)
ha..semoga bisa..#ekspresiGakYakin
Hapus