Waktu = Kesempatan

No Picture..

Kindly Bookmark and Share it:



#Lulus SMP ini kamu harus jebol di sana. Sekolahnya elit, udah gitu kamu akan lebih mandiri karena boarding school.
#Nanti sore jangan lupa les piano. Pertunjukan gak lama lagi. Jadi gak ada kata main-main.
#Gimana perkembangan olimpiade Fisika-mu? Kamu harus mendapat peringkat pertama.
#Udah. Pilihan pertamamu kedokteran, pilihan kedua psikologi.
#Bulan depan kamu harus sudah punya SIM A.
#Habis S1, gak usah pake jeda. Kamu langsung nyambung S2, ntar baru kerja.
#Fokus kuliah. Gak usah nyoba ini nyoba itu.

 Itu belum seberapa. Hanya secuil dari sekian banyak “permintaan (baca: tuntutan)” para orang tua kepada anaknya.


Pernahkah ini terjadi?:
#Nak, jadilah apa pun yang kamu inginkan. Yang penting kamu bahagia dan bisa memberi manfaat.
#Apa pun keputusanmu, kami akan selalu mendukung dan mendoakan.
#Semoga usahamu ini diberkahi sama Allah. Kami sangat ingin kamu tertawa (di masa depan) dengan pilihanmu.
#Jika hatimu masih ragu, bawalah istkhoroh. Coba tanya sama Allah. Kami hanya bisa memberi pendapat sebatas pandangan dan pengetahuan kami.

Adakah orang tua seperti itu di zaman ini? (*mungkin ada..)
Seorang anak memang lahir dari rahim ibunya, memang dinafkahi oleh ayahnya, dan memang dirawat dan dibesarkan oleh Ayah dan Ibunya. Tapi, sang anak datang sendiri ke dunia, punya nyawa sendiri, punya perjanjian dengan Allah sendiri (kapan pulangnya—baca: meninggal), punya masa depan sendiri, dan punya kehidupan sendiri. Oke, bagi anak yang dapat tumbuh dengan selalu didampingi oleh orang tuanya. Mereka dapat selalu meminta pertimbangan, pendapat, atau nasihat dari orang tuanya. Mereka juga berkewajiban untuk selalu mengunjungi orang tua mereka walau telah berkeluarga. Berbakti namanya.

Namun, apa jadinya dengan anak yang tidak berkesempatan tumbuh dengan didampingi oleh orang tuanya? Apakah haknya berbeda pula dari anak yang orang tuanya masih di dunia? Ia tetap berhak untuk masa depan yang cerah, untuk kehidupan yang bahagia, untuk tetap berprestasi.

Ya, semua itu pilihan. Ada atau tidaknya orang tua, kehidupan harus tetap bahagia, masa depan harus tetap cerah, dan harus tetap berbakti.

*masa depanmu adalah pilihanmu. Bukan pilihan orang tuamu.
*masa depanmu tak akan berhenti, jika denyut nadi orang tuamu berhenti.
*menunggu perintah orang tua berarti menenggelamkan masa depan.

4 komentar:

  1. *karena hidup adalah pilihan... :)

    BalasHapus
  2. masa depan mu ditetukan oleh dirimu sendiri bukan orang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar..
      supaya mudah, berinteraksi saja sama Allah. tanya sama Allah apa sudah bener ini keputusan?..
      ;)

      Hapus