Waktu = Kesempatan

Shalat Berjamaah..

Kindly Bookmark and Share it:




Kenapa?
Sudah biasa ya, melakukan shalat berjamaah? Sudah familiar? Berarti gak asing lagi dong? Oke oke, di sini bukan membahas tentang tata cara shalat berjamaah.

Sekedar cuap-cuap saja. Entah pernah menyadari entah tidak, ada pesan penting yang disampaikan oleh shalat berjamaah. Yuk mari, kita coba lihat..

Imam pada shalat berjamaah bukanlah sembarang orang. Ia adalah orang terbaik yang dipilih di antara mereka yang akan melaksanakn shalat. Ini beberapa indikatornya (kondisi lapangan) mengatakan, bahwa yang dipilih menjadi imam itu adalah yang paling bagus (fasih) bacaannya, yang paling banyak hafalannya, yang paling paham tentang agama, dan yang paling-yang paling lainnya. Tidak jarang tho, yang menolak untuk menjadi imam dalam shalat berjamaah? Kenapa itu ya? Dengar-dengar, katanya merasa belum pantas, bacaan yang masih berantakan, hafalan yang baru sepuluh halaman terakhir Al-Qur’an. Aduh, alasannya lumayan banyak dan bikin rempong kalau ditulis satu per satu. Ya, kira-kira itulah alasan yang paling top cer.


Lha, terus pesannya apa?
He..iya, sabar sabar. Ini mau dikasih tahu. Mari kita bawakan ke dalam rumah tangga. Tentu, seorang laki-laki yang menyatakan dirinya siap untuk menjadi imam, bukanlah sembarang lelaki. Ia sudah memiliki kesiapan lahir bathin, apakah itu kemapanan mental atau pun kemapanan finansial. Tidak sampai di sana. Ayuk, kita bawakan juga kepada sebuah negara. Pemimpin negara bukanlah sembarangan orang. Ia adalah yang terbaik di antara warga negara yang ada. Ia juga yang paling paham tentang—apakah itu undang-undang, tata kenegaraan, ketahanan negara, manajemen sumber daya, dan semua-muanya. Tidak perlu dilist satu per satu. Toh, dia sudah dihantarkan sendiri ke depan mata kepala (yang bisa melihat).

Ha, tapi lucunya..untuk menjadi imam di rumah tangga, sepertinya itu tidak berlaku. Asalkan “Aku cinta dia, dia cinta aku”, mereka pun berijab dan berkabul (he..akad nikah maksudnya). Sejatinya, hal ini tidak dipandang sebagai hal yang main-main. Kok kawin-cerai jadi biasa dan trending topik? Kok hak asuh anak jadi diperebutkan? Kok makanan keasinan sampai main tangan? Aduh aduh, paham apa tidak sih, IMAM itu apa?

Terus, meja dan kursi di atas sana sering jadi rebutan. Mhmh..apa benar-benar sudah berkafaah (berwawasan) dan mengerti sebenarnya itu medan apa? Medan untuk makan enak? Untuk beli emas? Untuk beli rumah triliunan rupiah? Atau mungkin medan untuk jalan-jalan ke luar negeri? Aduh, sayang sekali semua ini. Itu medan perang, kawan. Tidak kerja mudah duduk di kursi pemerintahan itu. Sekian juta yang jiwanya sedang diperjuangkan. Sekian juta yang haknya sedang dipertahankan.

Lucu ya?
Kalau dilihat dari shalat berjamaah tadi, banyak yang masih enggan dan menarik diri agar tidak dipilih dan ditunjuk menjadi imam. Namun, jika sudah bicara menikah atau jabatan, tidak sempat lagi untuk melihat diri (apakah pantas atau tidak). Dengan segera menawarkan diri. Sayang sekali semua ini.

Wallahua’lam..

*semoga yang menulis dan membaca senantiasa diberi kejernihan hati dan pikiran, aamiin..
**mari saling belajar dan berbagi pelajaran untuk pribadi yang lebih baik..
***sumber gambar: di sini

4 komentar:

  1. ckckck..... ternyata itu toh pesannya... hhee... nice...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. :)..
      semoga, kita semakin mempersiapkan diri untuk hari ini, esok, dan nanti..
      *keep struggle..

      Hapus
  2. Balasan
    1. wah, makasih kak..
      *semoga kita selalu bisa memaknai setiap moment..aamiin
      :)

      Hapus