Kenalkan, namaku Reza. Aku seorang
mahasiwa. Hari ini aku baru saja melewati ujian akhir semester. Aku datang
sebelum waktunya. Aku juga sudah membaca materi ujian dua jam sebelum ujian
berlangsung. Aku sering bolos. Aku tidak memperhatikan dosen. Aku tidak
mencatat inti perkuliahan. Aku juga tidak antusias dalam diskusi.
Bukan apa-apa. Memang semua itu tidak
menarik bagiku. Datang, duduk manis, dengarkan dosen, catat. Ah, itu ke itu
saja yang harus kulakukan—selama bertahun-tahun. Ditambah lagi beban tugas yang
bukan main banyaknya. Entah untuk apa para mahasiswa diberi tugas. Kabarnya,
mencetak sarjana. Memangnya sarjana itu apa?
Ah, aku hanyalah seorang Reza. Tidak
dipandang di antara mahasiswa lainnya. Bagaimana bisa dipandang? Aku saja tidak
pantas untuk “dipandang” versi mereka. Ah, tujuan hidupku juga bukan untuk
pandangan—apalagi pandangan manusia. Manusia itu suka yang enak-enak saja. Ya,
kira-kira seperti aku—yang sampai hari ini masih bingung mengapa harus suka
dengan dunia perkuliahan. Entahlah..
Ujian hari ini lancar. Aku dapat nomor
ujian, tidak terlambat, duduk dengan tenang, dapat lembar jawaban, dapat soal,
dan diberi waktu satu setengah jam untuk menyelesaikan soal essay sebanyk 10 buah.
Ah, terlalu lama waktu itu untukku. Lima menit saja cukup kurasa. Ya, semuanya
berjalan lancar sampai ujian dimulai.
Tepat, tak satu soal pun dapat kujawab.
“Oh, beginikah jalan menuju sarjana itu?”, pikirku. Sungguh, tidak ada
istimewanya bagiku. Kulihat sekeliling—wah wah, semuanya sedang mengarang
indah. “Mereka” menuangkan dengan sangat lancar huruf-huruf itu ke atas kertas
kosong. Kertasku tetap kosong seperti saat aku menerimanya dari pengawas ujian.
Ah, apalah istimewanya soal-soal ini.
Aku hanyalah seorang Reza. Yang tidak
meminta untuk wisuda tepat waktu. Tidak minta nilai bagus, tidak minta IP 4,
juga tidak minta lulus dengan predikat “DENGAN PUJIAN”. Untuk apa aku meminta
sesuatu yang aku tidak ada usaha untuk mencapainya? Boro-boro mendapatkannya,
wong usahaku saja tak ada. Aku cuma minta dianugerahkan semangat dalam hidup
ini. Khususnya semangat untuk kuliah.
Jujur, aku merasa sangat berdosa. Banyak
orang di luar sana yang juga ingin mengecap bangku perkuliahan. Lah, aku malah
tidak ingin kuliah. Juga, kata orang—mahasiswa adalah kalangan “intelek” yang
akan membawa perubahan. Apanya yang intelek? Ujian saja masih tengok jimat,
kiri-kanan—alias nyontek. Lalu, perubahan apa yang akan dibawa? Makin suram
saja kurasa jadinya.
Ah, apalah arti seorang Reza di mata
para “intelek muda”..
Namun, ada yang musti “intelek muda”
ketahui. Seorang Reza rela membiarkan ujiannya hancur demi harapan mulia
“mereka”. Ia rela mengumpulkan kertas putih bersih tanpa susunan huruf-huruf
hasil sontekan, yang jelas tidak halal. Seorang Reza menyarankan kepada para
“intelek muda” untuk kembali merenungi makna SARJANA itu.
Ah, siapalah seorang Reza di mata para
calon sarjana..
*belajarlah dari seorang Reza. Ia hanya
minta untuk dianugerahi semangat. Sungguh, niatnya mulia. Semoga Allah
anugerahkan semangat itu segera.
**ingatlah para “intelek muda”, tugasmu
adalah perubahan. Kamu dididik dan dibina untuk membangun umat ini. Tunaikan
atau sia-siakan? Pilihan di tanganmu. Yang membalas bukanlah seorang Reza, tapi
pemilik alam semesta.
***Reza bukanlah siapa-siapa. Semoga
para “intelek muda” dapat mengambil pelajaran dari kisahnya.

Motivasi dan Introspeksi diri
BalasHapus^_^
semoga kita senantiasa bermuhasabah dan bergerak menuju perubahan..aamiin
HapusAamiin..
HapusSemangat..!!
Semangat!! :)
Hapus"Ingatlah para “intelek muda”, tugasmu adalah perubahan. Kamu dididik dan dibina untuk membangun umat ini. Tunaikan atau sia-siakan? Pilihan di tanganmu." NICE.
BalasHapusthanks for you FAM..
Hapusapapun itu, kuliah, menjadi intelektual muda, atau menjadi "bukan apa-apa dan siapa-siapa" semua itu adalah pilihan... dan pilihan itu kita yang tentukan dengan Allah tentunya yang membuat pilihan itu menjadi kenyataan...
BalasHapusTemukan semangat itu.. temukan motivasi itu...
Yup, mari doakan semoga Reza dan saudara-saudara kita yang kurang lebih berkisah sama, menemukan semangat itu segera..aamiin
Hapusinsyaallah succes
Hapusaamiin.. :)
Hapus