Waktu = Kesempatan

Mereka Menunggumu..

Kindly Bookmark and Share it:



Kawan, aku menulis ini saat malam tengah berlalu. Ini kutulis terkhusus untukmu duhai yatim, piatu, yatim piatu. Lepas dari itu, ini untukmu juga duhai kawanku yang masih dilimpahkan belaian nyata dua orang manusia mulia. *bersyukurlah..

Duhai yatim piatu..
Tidak usah sedih. Aku tahu kamu sungguh merindukan sosok itu. Aku tahu kamu sering termenung dikala sendiri. Aku juga tahu kamu cukup iri melihat mereka. 

Duhai yatim piatu..
Jangan siksa dirimu dengan penyesalan itu. Jika kamu menyesal, berarti kamu tidak ridho dengan keputusan Allah. Memang, dikala itu kamu belum tahu apa-apa. Belum tahu bagaimana berperilaku santun. Aku paham, kamu sangat ingin memberi sesuatu yang berharga darimu untuk mereka. Tapi sungguh, jangan sesalkan semua ini. Tidak sadarkah kamu? Bukankah adikmu lebih tidak tahu apa-apa saat dia menyandang ‘status’ yatim piatu? Bukankah adikmu lebih tidak tahu berperilaku santun dikala itu? Bukankah adikmu terlalu muda untuk semua ini?


Duhai yatim piatu..
Harusnya kamu bahagia. Sudah selesai tugas mereka di dunia ini. Tetaplah jadi anak yang santun. Lupakah kamu bahwa mereka menunggumu untuk kembali bersua dan berkumpul di jannahNya? Sapulah air matamu itu, kawan. Dunia ini tak abadi. Bahagiakanlah mereka di sana. Jadilah anak yang sholeh dan sholehah. Tunjukkan, kalau mereka sudah berhasil mendidik dan membimbing anaknya. Ingatlah kawan, mereka menempuh perjalanan suci menuju keabadian.

Duhai yatim piatu..
Aku tahu kamu belum sempat membagi kebahagiaanmu. Aku juga tahu kamu belum sempat membuat mereka tersenyum. Namun ingatlah duhai kawan, kamu bukanlah Zat yang maha melihat—juga bukan Zat yang maha mengetahui. Siapa bilang mereka tidak pernah bahagia dan tersenyum karenamu? Bukankah suatu kebahagiaan terbesar bagi mereka saat dirimu terlahir ke dunia? Kumohon, tangguhlah..

Duhai yatim piatu..
Apa kamu ingin menangis? Menangislah kawan. Menangis itu bukanlah tanda cengeng. Menangis itu tanda cinta. Jika kamu merindukan mereka, katakan pada Allah. Mohonlah pada Allah apa saja yang kamu inginkan. Mohonkanlah kedamaian dan kesejukan untuk mereka di sana. Mereka tentu juga teramat merindukanmu. Percayalah..

Duhai yatim piatu..
Jangan sekali-kali kamu menyebut dirimu ‘kurang beruntung’. Sadarilah kawan. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa (Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya). Allah amat menyayangimu. Allah sangat ingin kamu menjadi pribadi tangguh. Maka, Allah pilihlah dirimu untuk menjadi yatim piatu. Bukankah kamu amat beruntung, kawan? Siapa yang lebih menyadari betapa berharganya orang tua selain yatim piatu? Jelas, karena dia sudah tak punya. Siapa yang lebih menyadari betapa semua ini hanyalah titipan, selain dari mereka yang sudah tak punya? Sungguh, itulah cara Allah menguatkanmu.

Duhai yatim piatu..
Tersenyumlah. Hidupmu begitu indah. Jalani saja senda gurau ini dengan sebagaimana mestinya. Jasad itu tak abadi, kawan. Semuanya milik Allah. Jika kamu rindu, kirimkan mereka doamu.

Duhai yatim piatu..
Di akhiratlah keabadian itu..

*untuk kawanku yang masih memiliki orang tua, aku berpesan (*sebagai saudaramu dan juga sebagai seorang yatim piatu). Jagalah hati mereka, rawatlah mereka, bahagiakanlah mereka. Sungguh, jasa-jasanya takkan mampu kau balas—seujung jarum pun takkan sanggup. Karena, cuma itulah caramu berterima kasih pada mereka.

8 komentar:

  1. Ija....
    We love U....
    Teteup Semangat yach adek2ku...
    Tetap Semangat!

    BalasHapus
  2. Ija.....
    Teteup Semangat Adek2ku...
    Semua ada hikmahnya.

    We Love U

    BalasHapus
    Balasan
    1. :)..
      Allah selalu memberi apa yang kita butuhkan. semoga kita selalu bersedia untuk mengintip hikmah itu..

      Hapus
  3. sungguh sngt menguatkhan ku saat ini...trmksh....ini sdh mngemblikhn smngt ku lgi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah..senang sekali jika demikian..
      *semangat!

      Hapus