Waktu = Kesempatan

Andai aku punya mobil..

Kindly Bookmark and Share it:


Sore itu aku baru saja pulang kuliah. Dikatakan badai—hampir. Awalnya gerimis biasa saja. Ya, aku putuskan untuk tidak memakai payung. Dua temanku yang lain juga begitu. Kami sedang menikmati tusukan-tusukan halus dari air langit yang jatuh. Wah wah, sepertinya tidak bisa lama-lama. Semakin deras saja air yang turun. Tentu, kami putuskan untuk mengembangkan si umbrella. Meski cuma ada satu payung—laa baksa (tidak apa-apa). Kami sedang sangat menikmati kebersamaan itu.

Duduk saja ketiga anak itu di tangga masjid. Menatap butiran air yang semakin deras. Mulailah pikiran ini melanglang buana. Mobil-mobil bagus sudah mulai berjejer rapi di parkiran depan masjid. Tidak sedikit juga motor yang pasrah menerima air hujan yang menusuknya tanpa henti.


Mulailah pikiran ini berkata, “Ah, andai saja aku punya mobil seperti mereka. Tentu aku juga bisa membawa dua orang saudaraku ini. Tidak harus kehujanan seperti ini. Sama saja tidak ada gunanya si umbrella itu. Tetap saja basah jadinya. Ah, kasihan sangat diriku menelusuri bola mata mereka yang sedang mengikuti butiran air yang jatuh itu. Terpaku saja—tanpa kata-kata. Aduh, apalagi saat salah seorang dari saudaraku berkata, ‘wah, sudah mulai dingin ya? Bajuku basah’. Duhai, andai saja aku punya mobil, pasti mereka tidak usah merasakan dingin yang seperti ini.”

Satu, dua, tiga mobil sudah berganti lalu lalang di depan mataku. Andai aku punya mobil..gumamku.

Kemudian, dingin semakin menusuk saja. Aku ajaklah dua temanku itu untuk masuk ke dalam masjid. Setidaknya lebih hangat dan tentunya agar pikiranku tidak melayang-layang seperti itu. Mulailah kami bersiap-siap untuk berwudhu. Ya, sebentar lagi ashar. Wah, semakin dingin saja saat air wudhu menyentuh kulit yang memang sudah kedinginan. Kebetulan, juga tak ada makanan yang kira-kira bisa mengganjal perut di ransel kami. Maklum, mahasiswa..he.

Tidak lama-lama. Kami langsung mengenakan mukena. Subhanallah, sudah mulai hangat kami merasa. Sambil menunggu iqamah, mulailah para makmum merapikan shaf (meski hanya beberapa orang, tapi jadilah..). Suara imam sepertinya agak berlomba dengan derasnya hujan. Mulailah kembali pikiranku ini berbicara, “Wah, bisa-bisa tidak kedengaran suara imam gara-gara hujan yang terlalu deras. Bisa gaswat ini. Gak lucu jadinya—imam sudah sujud, lah diriku masih rukuk”. Sempat aku memasang strategi untuk sedikit melirik ke shaf ikhwan (laki-laki), supaya tidak ketinggalan nantinya. (walau sebenarnya sedikit ragu untuk merealisasikan strategi aneh itu..he).

Sudahlah, iqamah sudah selesai. Aku harus konsentrasi—ya, konsentrasi. Mulailah shalat ashar sore itu saat imam takbir. Yup, aku dan makmum lainnya mengikuti imam.

Shalat ashar pun selesai. Subhanallah, tanpa harus diriku merealisasikan strategi aneh tadi, aku dapat mengikuti shalat berjamaah dengan baik. Memang, suara imam sayup-sayup terdengar di telingaku. “Ah, tak masalah”, itu pikirku. Dan memang tidak masalah sebenarnya.

Bahagianya lagi, hujan deras sudah pergi—tinggallah gerimis yang (kusuka). Duhai, bahagianya melihat senyum di wajah saudaraku itu. Tidak ada lagi kata ‘kedinginan’. Senang saja aku menyaksikan itu. Biar pun gerimis, kami tetap berjalan menyusuri hijaunya kampus. Ya, aku sangat bangga dengan kampusku. Jika resah, duduk saja di tangga masjid sambil menyaksikan hijaunya alam. Sudah cukup itu bagiku.

Ya, kami mulai menyusuri rerumputan yang masih basah. Duhai, semakin segar saja aroma sore itu. Aku semakin menikmati gerimis yang turun.

Duhai..
Andai aku punya mobil, aku belum tentu akan mengerti makna ‘kedinginan’ yang dilontarkan saudaraku.
Andai aku punya mobil, aku tidak akan merasakan waktu ashar yang begitu hangat menyambutku.
Andai aku punya mobil, aku tidak akan berusaha untuk konsentrasi dalam shalat.
Andai aku punya mobil, aku tidak akan bersyukur dengan kampusku nan amat indah.
Andai aku punya mobil, aku tidak akan menikmati sejuknya gerimis dengan mereka, saudara-saudaraku.

Ya, kalau saja waktu itu aku punya mobil, lewatlah semua momen indah itu. Momen, untuk taqarrub ilallah (semakin dekat dengan Allah). RencanaMu selalu indah duhai Allah..

10 komentar:

  1. lah kenapa gak jadi penulis saja kalau emang suka nulis, ngapain buka distro segala :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. :)..
      kan ini sudah jadi penulis bang?(penulis di blog sendiri..he)
      soal distro mah..lagi menunggu keputusan..(ada udang di balik bakwan nih..)

      Hapus
  2. Semangat kak .. :D
    yakin kalau entar kak bakalan jadi penulis no 1 dimanapun .. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah..senang sekali membaca komentarnya
      aamiin..
      semoga Adrian Hidayat bisa lebih dari kakak..
      ;)

      Hapus
  3. Mantap Ja..
    Semoga selalu berada di jalan dakwah..
    ..
    :)
    Semangat Jihad!!
    AllahuAKBAR..!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Allahuakbar..
      aamiin, semoga istiqomah terjaga hingga akhir..

      Hapus
  4. Balasan
    1. yupp!!..
      “Ketika kamu bicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atau sepanjang koridor. Tapi ketika menulis, kata-katamu bergaung sepanjang zaman.”(Bud Gardner)

      Hapus
    2. Kutipan yang bagus. Ikutan kopas ya.

      Hapus
    3. iya Bu, tafadhol..*semoga banyak manfaat..aamiin..
      :)..

      Hapus